Assalammu'alaikum Wr.wb

Selamat datang di blok Berbagi itu Indah, Semoga Bermanfaat

Jumat, 14 Desember 2012

Ketika Hujan Turun


Pelajaran Ketika Datang Hujan

 Cuaca hari ini memang tampak tak bersahabat, sudah 2 jam berlalu tetapi hujan tak menunjukan tanda-tanda akan berhenti. Dari dalam ruangan salah satu kafe aku melihat wajah-wajah yang tak sabaran untuk menunggu hujan mereda. Aku sendiri tidak terlalu memusingkan apakah hujan akan reda secepatnya atau tidak, toh nanti hujan juga akan reda dengan sendirinya. Selain itu bagiku hujan adalah nikmat tersendiri, karena dari hujan aku bisa melihat sisi lain dari kota pempek kota palembang.
Sambil menghirup sop yang aku pesan di cafe ini, samar-samar aku mendengar suara salah seorang wanita bersama teman-temannya yang sedang berteduh, mengeluh karena hujan tak kunjung mereda. Dari pakaian yang mereka kenakan aku bisa melihat mereka dari kalangan yang berdada, rambut diurai yang tampak jatuh lembut, kulit putih yang terawat serta wajah yang dipoles dengan bermacam-macam alat make up. Serta tak lupa High Heels yang sepertinya setinggi 12 cm itu. dan aku berharap kaki mereka cukup kuat untuk menahan rasa sakitnya.
“Haduh, kok hujannya tak kunjung berhenti ya?” ungkap seorang wanita
“iya padahal sayang sekalikan weekend seperti ini malah turun hujan.” Saut salah satu wanita lagi.
“iya, jangan saja sampai nanti malam hujannya tak berhenti. Bisa-bisa malam minggu aku berantakan” kata salah seorang lagi dari mereka.
Tak lama kemudian ada seorang anak kecil yang datang menghampiri ketiga wanita tersebut.
“mbak bagi duit mbak” kata anak kecil tersebut
Dengan tatapan yang tak dapat kugambarkan, aku melihat wanita tersebut seperti kesal melihat anak tersebut “kamu tidak lihat kita lagi kesusahan, eh kamu malah minta duit. Dasar pengemis kecil” kata salah satu dari mereka.
“Iya, kamu kecil-kecil sudah jadi pengemis !! bagaimana besarnya nanti. Seharusnya kamu itu sekolah” tambah salah satu dari mereka.
“dasar pelit, percuma orang kaya kalau tidak mau sedekah. Lebih baik aku yang tidak sekolah dari pada mbak sekolah tinggi-tinggi tapi pemikirannya rendah” maki anak kecil tersebut. Kontan  saja hal ini membuat salah satu dari mereka naik darah dan hendak memaki anak tersebut. Tetapi sebelum hal itu terjadi sang anak telah pergi meninggalkan wanita itu. aku tersenyum geli melihat pemandangan yang terjadi di depan mataku. Sebelum pergi anak itu berhenti dan berteriak lagi.
“Kami tidak sekolah bukan karena kami malas, tapi keadaan yang memaksa kami tidak begini” teriak anak tersebut. Dengan raut muka yang seperti hampir menangis.
Dengan wajah yang mashi tampak merah, anak kecil itu masuk kedalam cafe tempatku berteduh, tak lama kemudiam datang dan menghampiriku.
“mbak bagi duit mbak”
Aku tersenyum lalu kemudian aku memberi salah satu es krim yang ada di mejaku pada mereka. “adek lebih baik adek kerja, dari pada meminta. Hasilnya lebih puas lho dek” kataku pelan.
Kemudian dia pergi dan berlari dengan girang. Tak tampak lagi raut sedih di wajahnya. Ditengah perjalanan anak itu mengatakan terima kasih padaku. Aku tersenyum dan didalam hati aku mengucap rasa syukur kepada Allah, karena dibalik diluar sana masih banyak orang-orang yang tak seberuntung diriku.
Setelah puas menyeduh minumanku, aku beranjak dan hendak pergi keluar dan melanjutkan perjalanan. Aku berdiri tepat disamping ketiga wanita yang aku lihat dari dalam tadi. Di depan mall aku bisa melihat banyak sekali anak kecil yang memanfaatkan berkah hujan turun sebagai rezeki buat mereka. Meski penghasilannya sedikit tetapi berkahnya sungguh luar biasa.
“Dek, ojek payung dek?” tanya seorang wanita yang  kepada salah satu anak yang membawa ojek payung.
“tidak ah mbak, kami kan pengemis jadi mbak minta tolong saja sama orang yang bukan pengemis!” ungkap anak yang membawa payung tersebut. Mendengar jawaban sang anak aku sontak terkejut. Aku masih tidak mengerti mengapa anak ini mengatakan hal yang seperti itu kepada wanita tersebut.  sedangkan wanita tadi hanya bisa diam dan tampak syok mendengar jawaban tersebut.
“dek ojek payung keseberang berapa?” tanyaku pada anak itu. dan kejutan berikutnya kudapatkan, bukan hanya aku tetapi juga ketiga wanita tadi. Ternyata anak ini adalah anak yang tadi kuberi es krim. Aku senang melihatnya sudah tidak meminta-minta lagi, tapi di satu sisi aku sedih karena anak sekecil ini sudah harus mencari uang  dan rela hujan-hujanan hanya untuk mendapatkan sedikit uang utnuk kehidupannya.
“buat mbak gratis”
Lagi-lagi jawaban anak ini membuat aku terkejut untuk kesekian kalinya. “kenapa gratis dek?” tanyaku kemudian. Tetapi yang ditanya malah tersenyum.
“ayo mbak” katanya kemudian
Aku masuk kedalam payung yang dibawa anak ini. Karena perjalanan ketempat yang aku tuju cukup jauh, aku mengajak anak ini berbincang-bincang.
“nama adek siapa?” tanyaku memulai percakapan.
“aku andi mbak” jawabnya sambil tersenyum
“andi umurny berapa?” tanyaku kemudian
“7 tahun mbak?”
“berarti sudah kelas 2 SD ya?”
“andi tidak sekolah lagi mbak.” Jawabny lirih
“kenapa?” tanyaku penasaran.
“mau sih mbak, tapi orang tua aku tidak punya duit. Andi hanya hidup dengan ibu dan adik andi. Ibu hanya bekerja sebagai buruh cuci yang gajinya terbilang kecil. Biarlah mbak, adik andi saja yang sekolah nanti. Dan aku akan membiayai sekolahnya. Biar dia tidak dibilang pengemis lagi.” katanya menjelaskan. Anak sekecil ini sudah punya fikiran yang sangat mulia. Dengan segala keterbatasannya dia bisa mengatakan hal yang istimewa sekali buatku.
“kan sekarang sekolahnya sudah gratis dek”
“yah mbak, di dunia ini tidak ada yang gratis. Semuanya butuh duit mbak. Walaupun kata pak presiden sekolah gratis tapi yang namanya buku, baju dan  sebagainya kan juga belinya pakai duit mbak. Jadi tetap saja ujung-ujungnya bayar. Belum lagi kalau disekolah nanti, pasti bayar ini bayar itu. kalau andi maksain buat sekolah, kasian ibu mbak. Biarlah andi kerja sekarang toh nanti pasti ada jalan” Katanya dengan nada yakin. Mendengar perkataan anak ini, aku mulai berfikir apakah kebijakan untuk sekolah gratis tidak terjamah oleh semua kalangan ? ataukah kebijak tersebut harus dirubah kembali dan harus disesuaikan ?. Entahlah yang pasti masih bayak sekali anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya.
“memang penghasilan andi sehari berapa dari ngamen dan ngojek payung?” tanyaku penasaran
“tidak besar sih mbak, tapi cukup buat makan adik sama ibu. Kira-kira 30.000 mbak” katanya menjelaskan.
Aku mulai berfikir mereka mencari uang seharian hanya untuk mendapatkan uang 30.000 sedang bagiku 30.000 itu sangat kecil dan tidak berarti, tetapi bagi mereka sangat membantu dan berarti.
“Adek mau kalau mbak bantu?” tanyaku kemudian
“bantu apa mbak?” tanyanya terlihat antusias.
“kebetulan mbak, banyak temen yang guru. Adek mau kalau mbak bantu adek buat belajar. Memang sih bukan sekolah seperti sekolah lain. Tapi kan lumayan kalau adek sama teman-teman adek bisa belajar membaca, menghitung dan pengetahuan lainnya. Nanti mbak ajak teman-teman datang kedaerah adek. Gimana?”
“serius mbak. Iya mau mau mbak. Nanti aku ajak semua teman-teman” katanya antusias
“adek tinggal dimana?”
“di Rusun belakang mbak blok 21”
“begini saja, minggu depan adek datang ke dekat Pos satpam yang ada di belakang nanti kita cari tempat buat belajar jam 12 siang.” Kataku kemudian
“iya mbak, aku mau. Yang lainnya juga pasti mau mbak”
“kalau begitu kita sepakat ya.”
“iya mbak, mbak Sudah sampai mbak. Mobil mbak dimana?”
“itu yang merah” aku dan anak ini berjalan menuju tempat mobilku diparkir. Sebelum pergi aku memberikan kue yang tadi sempat aku beli.
“di ini kue buat andi makan sama adik sama ibu andi. Tapi andi langsung pulang ya jangan ngojek payung lagi. Nah ini uang sebagai terima kasih mbak”. Aku memberikan kue dan uang kepadanya. Tapi anak ini malah menolak dengan asalan.
“tidak usah mbak, aku sudah sangat senang kalau mbak mau menghargai anak jalanan seperti kami” katanya sambil tersenyum. Aku yang mendengarnya langsung terharu dibuatnya. Hal yang kecil yang aku perbuat sangat berdampak besar buat mereka semua. Terima kasih ya Allah atas pelajaran yang engkau berikan hari ini.
“iya iya. Terima kasih ya. Tapi kamu harus tetap ambil ini ya. Mbak mohon” katany sambil memelas
“iya aku ambil mbak, terima kasih ya mbak” anak itu pergi meninggalkanku dengan semua lamunanku.

***
Selama 1 minggu ini aku dan teman-teman mencari tempat untuk mengajar anak-anak disekitar rusun. Dan akhirnya kamipun mendapatkan sebuah rumah yang cukup layak untuk kami jadikan tempat untuk mengajar anak-anak ini. Teman-temanku yang sedang mengambil pendidikan sebgai seorang guru tampak antusias dengan semua rencanaku, mereka semua ingin menepakan apa yang mereka dapat selama menimba ilmu. Dan aku senang, walau tanpa bayaran mereka semua mau dan tampak bersemangat. Kami menjadwalkan untuk mengajar mereka saat mereka tidak bekerja agar orangtua mereka tetap mengizinkan anak-anaknya untuk bersekolah walaupun hanya sebatas sekolah singgah. Disini kami mengajarkan bagaimana cara membaca, menulis, berhitung dan juga bagaimana cara keterampilan yang bisa mereka terapkan. Dan dari itu semua kami bisa membuka usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan sabagai pembuat prakarya rumah singgah. Dimana disini terdapat berbagai macam hasil karya yang dibuat oleh anak-anak ini.
15 tahun sudah setelah pertemuan pertamaku dengan andi, kini sekolah singgah yang aku dirikan dengan teman-temanku sudah mampu memberikan pendidikan kepada siswa-siswanya. Bahkan karena kegigihan dan kerja keras kami, bayak donatur yang berniat untuk memberikan beasiswa kepada anak-anak yang berkeingina  keras untuk sekolah. Saat ini kami telah membuka 4 cabang sekolah singgah dan sudah 200 siswa yang bisa mendapatkan beasiswa sampai mereka selesai SMA. Dan 50 orang diantaranya bisa melanjutkan sampai bangku perkuliahan. Termasuk andi, 1 tahun dia menjalani pendidikan di sekolah dinggah ini dia sudah berhasil mendapatkan beasiswa untuk bersekolah disekolah formal yang layak. Dan sekarang andi melanjutkan perkuliahan di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di indonesia di jurusan hukum. Karena bercita-citanya untuk membatu orang-orang miskin yang membutuhkan bantuan hukum. Sedang aku sendiri, aku sekarang menjalankan rumah singgah yang telah aku bangun selama 15 tahun dan juga aku memasarkan prakarnya yang dibuat oleh anak-anak berbakat ini. Dan peminat karya mereka sangat banyak dan tak jarang dari mereka yang bisa memenangkan perlombaan berkat karya mereka.
Ya Allah terima kasih atas kesempatanmu mempertemuanku dengan malaikat kecilmu (Andi), aku bisa bermanfaat untuk banyak orang. Aku mendapatkan bayak pengalaman dari semua itu. aku bisa menjadi lebih baik dan aku bisa melihat karuniamu yang begitu besar. Berkat pertemuan itu juga aku mendapatkan jalan yang terbaik. Mempertemukanku dengan belahan jiwaku yang selama ini aku cari. Berkat pertemuan itu juga aku mengerti betapa pentingnya menjadi berarti untuk orang lain. Terima kasih karena Engkau memberikan kesempatan itu padaku bukan kepada orang lain. Engkau memang Maha Tahu dari segala yang Tahu.

RESPIRATORY DISTRES SYNDROME (RDS) ATAU HYALINE MEMBRANE DISEASE (HMD)


RESPIRATORY DISTRES SYNDROME (RDS)
ATAU HYALINE MEMBRANE DISEASE (HMD)

A. Definisi
Sindrom Distres Pernafasan adalah perkembangan yang imatur pada sistem pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. RDS dikatakan sebagai hyaline membrane disease (HMD). (Suryadi dan Yuliani, 2001).
HMD adalah gangguan pernafasan yang sering terjadi pada bayi premature dengan tanda-tanda takipnue (>60 x/mnt), retraksi dada, sianosis pada udara kamar, yang menetap atau memburuk pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik. Tanda-tanda klinik sesuai dengan besarnya bayi, berat penyakit, adanya infeksi dan ada tidaknya shunting darah melalui PDA.

B. Patofisiologi
·      Pada RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang disebabkan kurangnya zat yang disebut surfaktan. Surfaktan adalah zat aktif yang diproduksi sel epitel saluran nafas disebut sel pnemosit tipe II. Zat ini mulai dibentuk pada kehamilan 22-24 minggu dan mencapai max pada minggu ke 35. Zat ini terdiri dari fosfolipid (75%) dan protein (10%). Peranan surfaktan ialah merendahkan tegangan permukaan alveolus sehingga tidak terjadi kolaps dan mampu menahan sisa udara fungsional pada sisa akhir expirasi. Kolaps paru ini akan menyebabkan terganggunya ventilasi sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2 dan asidosis.
·      Hipoksia akan menyebabkan terjadinya :
1. Oksigenasi jaringan menurun menyebabkan metabolisme anerobik dengan penimbunan asam laktat asam organic sehingga terjadi asidosis metabolic.
2. Kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris menyebabkan transudasi kedalam alveoli sehingga terbentuk fibrin.
·      Asidosis dan atelektasis akan menyebabkan terganggunya jantung, penurunan aliran darah keparu, dan mengakibatkan hambatan pembentukan surfaktan, yang menyebabkan terjadinya atelektasis. Sel tipe II ini sangat sensitive dan berkurang pada bayi dengan asfiksia pada periode perinatal, dan kematangannya dipacu dengan adanya stress intrauterine seperti hipertensi, IUGR dan kehamilan kembar.
 C. Komplikasi
·      Pneumothorax
·      Pneumomediastinum
·      Pulmonary intestinal dysplasia
·      Bronchopulmonary dysplasia (BPD)
·      Patent ductus arteriosus (PDA)
·      Hipotensi
·      Menurunnya pengeluaran urine
·      Asidosis
·      Hiponatremi
·      Hipernatrium
·      Hipokalemi
·      Hipoglikemi
·      Disseminated intravascular coagulation (DIC)
·      Kejang
·      Intraventricular hemorrhage
·      Retinopathy pada premature
·      Infeksi sekunder

D. Etiologi
·      Defesiensi atau kekurangan surfaktan.
Ada 4 faktor penting penyebab defisiensi surfaktan pada RDS yaitu prematur, asfiksia perinatal, maternal diabetes, seksio sesaria.
·      Gangguan traktus respiratorius :
ü Hyaline membrane disease (HMD). Berhubungan dengan kurangnya masa gestasi (bayi prematur)
ü Transient tachypnoe of the newborn (TTN). Paru-paru terisi cairan, sering terjadi pada bayi Caesar karena dadanya tidak mengalami kompresi oleh jalan lahir sehingga menghambat pengeluaran cairan dari dalam paru.
ü Infeksi (pneumonia)
ü Sindroma aspirasi
ü Hipoplasia paru
ü Hipertensi pulmonal
ü Kelainan congenital (choanal atresia, hernia diagfragma,pieer robin sindroma)
ü Pleural effusion
ü Kelumpuhan saraf frenikus
·      Luar traktus respiratoris:
Kelainan jantung congenital, kelainan metabolic, darah dan SSP.

E. Manifestasi Klinis
·      Pernafasan cepat (tachynea)
·      Retraksi (takiran) dada (suprastenal, substernal, intercostals)
·      Pernfasan terlahat paradoks
·      Cuping hidung
·      Apnea
·      Murmur
·      Sianosis pusat

F. Pemeriksaan Diagnostik
·      Foto rontsen: menunjukan adanya atelektasis
·      Analisa gas darah: analisis gas darah arteri dengan PaO2 kurang dari 50 mmHg dan PCO2 diatas 60 mmHg
·      Imatur lecithin / sphingomyolin (L / S): esitin/spingomielin rasio 2:1 mengindikasikan bahwa paru sudah matur

G. Penatalaksanaan Terapiutik
·      Pemberian oksigen
·      Pertahankan nutrisi adekuat
·      Pertahankan suhu lingkungan netral
·      Diet 60 kcal/kg per hari ( sesuaikan dengan protocol yang ada) dengan asam amino yang mrncukupi untuk mencegah katabolisme protein dan ketoasidosis  endogenous
·      Pertahankan PO2 dalam batas normal
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
HMD (HIALIN MEMBRANE DISEASE)

A.  Pengkajian
·      Data Demografi ( Nama Anak, jenis kelamin, nama orang tua, pekerjaan orang tua, alamat, pendidikan terakhir, agama, suku dsb)
·       Lakukan pengkajian fisik bayu baru lahir dan pengkajian gestasi.
·      Lakukan pengkajian sistemik, dengan penekanan kusus pada pengkajian pernafasan.
·      Observasi adanya manifestasi RDS :
- Dispnue/hipernue/takipneu
- Sianosis
- Retraksi suprasternal / epigastrik / intercostals
- Grunting expirasi
- Mengorok ekspiratori
- Pernapasan cuping hidung
- Pernapasan kulit

·      Identifikasi faktor risiko
·      Kaji system pernafasan: tanda dan gejala RDS
·      Kaji system kardiovaskuler: adanya murmur
·      Kaji sianosis, indikasi kegawatan hypoxia
·      Kaji hasil laboratorium
·      Kaji endotracheal tube (selang intubasi tracea)

B. Diagnosa
·      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan imatur paru dan dinding dada atau kurangnya jumlah cairan surfaktan
·      Tidak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi atau pemasangan intubasi tracea yang kurang tepat dan adanya secret pada jalan nafas.
·      Tidak efektif pola nafas berhubungan dengan ketidaksamaan nafas bayi dan ventilator, tidak berfungsinya ventilator, dan posisi bantuan ventilator yang kurang tepat
·      Resiko injury berhubungan dengan ketidakseimbangnya asam – basa; O2 dan CO2 barotrauma (perlukaan dinding mukosa) dari alat bantu nafas
·      Resiko perubahan peran orang tua berhubungan dengan hopitalisasi sekunder dari situasi krisis pada bayi
·      Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan hilangnya cairan yang tanpa disadari (insensible water loss)
·      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak mampuan menelan, motilitas gastric menurun, dan kurangnya penyerapan

C.   Intervensi
1.      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan imatur paru dan dinding dada atau kurangnya jumlah cairan surfaktan
Tujuan: Untuk mempertahankan pertukaran gas yang adekuat
Intervensi:
·      Identifikasi bayi mungkin adanya risiko-risiko yang muncul
·      Monitor ststus pernafasan; distress pernafasan dan lapor ke dokter bila terjadi keburukan kondisi pernafasan
·      Monitor analisa gas darah, pulse oximetry
·      Posisikan bayi dengan tepat agar ada upaya bernafas
·      Pertahankan suhu lingkungan netral
·      Mengurangi pegangan
·      Pemberian oksigen sesuai program 
  
2.    Tidak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi atau pemasangan intubasi tracea yang kurang tepat dan adanya secret pada jalan nafas
Tujuan: Meningkatkan kebersihan jalan nafas
Intervensi:
·      Kaji daya bayi apakah bunyi nafas bilateral dan adanya ekspansi selsma inspirasi
·      Atur posisi bayi untuk memudahkan drainage
·      Lakukan pengispan lendir (suction)
·      Kaji kepatenan jalan nafas setiap jam
·      Kaji posisiketepatan alat ventilator setiap jam
·      Auskultasi kedua lapang paru

3.    Resiko perubahan peran orang tua berhubungan dengan hopitalisasi sekunder dari situasi krisis pada bayi
Tujuan: Meningkatkan bonding orang tua –bayi
Intervensi:
·      Jelaskan semua alat-alat (monitor, ETT, ventilator) pada orang tua
·      Ajarkan orang tua untuk selalu mengunjungi
·      Jika tidak menggunakan oksigen, ajarkan orang tua untuk menyentu bayi, bercakap dan belaian kasih sayang
·      Ajarkan cara orang tua untuk beradaptasi dalam perawatan bayi
·      Instruksikan pada ibu untuk memberikan ASI dan ajarkan cara merangsang pengeluaran ASI


ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI “M” DENGAN
HIALIN MEMBRANE DISEASE

A. PENGKAJIAN
1. Identitas Bayi dan Penanggung Jawab
·      Identitas Bayi
Nama bayi         : By. “M”
Jenis Kelamin    : Laki-laki
Tanggal Lahir    :  November 2012
BBL                  : 3700 gram
Med. Rec          :679898
Agama               : Islam
Alamat              : Ogan Ilir
Pengkajian         : 4 Desember 2012
Diagnosa           : HMD grade II
·      Identitas Penanggung Jawab
Nama Ibu          : Ny. “M”
Umur Ibu          : 34 tahun
Agama               : Islam
Pendidikan        : SLTA
Pekerjaan           : IRT

2.    Riwayat Kesehatan
·      Keluhan utama: Lahir tidak langsung menangis
·      Riwayat Penyakit Sekarang: Bayi datang diantar keluarga ke RSMH, ibu melahirkan di klinik bersalin, ekstraksi vakum atas indikasi SC ditambah ibu kelelahan, ditolong Sp.Og dari ibu G2 P1 A0 hamil aterm, lahir tidak langsung menangis. Bayi lahir pada tanggal 28 November 2012 pukul 17.20 WIB.  Refleks hisap lemah, tangis lemah, aktivitas hipoaktif dengan nadi 128 x/ menit, pernafasan 66 x/menit dan temperatur 36,2°C.
·      Riwayat Persalinan: Ibu klien melahirkan di klinik bersalin, ekstraksi vakum atas indikasi SC ditambah ibu kelelahan, ditolong Sp.Og dari ibu G2 P1 A0 hamil aterm, ketuban jernih, ketuban pecah dini tidak terjadi
·      Status Kehamilan : G2 P1 A0

3. Pengkajian Fisik
a. Refleks
1. Refleks menggenggam: Refleks menggenggam pada By. “M” (+) tapi lemah.
2. Refleks menghisap: Refleks menghisap (+) ditandai dengan meletakan tangan pada mulut bayi, bayi menghisap jari, hisapan lemah.
3.    Refleks rooting: Reflek rooting (-) ditandai dengan bayi tidak menoleh saat tangan ditempelkan di pipi bayi.
b.  Tonus otot
Gerakan bayi sangat lemah tetapi pergerakan bayi aktif ditandai dengan bayi sering menggerek-gerakan tangan dan kakinya.
c.  Keadaan umum dan TTV
Keadaan umum   : sedang
Kesadaran           : Somnolent
Lingkar kepala     : 33 Cm
Lingkar dada       : 30 Cm
Panjang badan     : 49 Cm
Berat badan         : 3850 Gram
Suhu                    : 36 °C
Respiratory          : 70 x/menit
Nadi                    : 132 x/menit
d.  Kepala
Bentuk kepala Normochepal, lingkar kepala 33 cm, pertumbuhan rambut merata, tidak ada lesi, tidak ada benjolan, fontanel anterior masih lunak, sutura sagital datar dan teraba, gambaran wajah simetris terdapat larugo disekitar wajah dan badan.
 e.  Mata
Mata simetris, tidak ada pembengkakan pada kelopak mata, mata bersih tidak terdapat sekret, mata bisa mengedip, bulu mata tumbuh, reflek kornea (+) reflek terhadap sentuhan, reflek pupil (+) respon terhadap cahaya, replek kedip (+)
f.  Telinga
Letak telinga kanan dan kiri simetris, lubang telinga bersih, tidak terdapat serumen, tidak ada lesi, bentuk telinga baik, lunak dan mudah membalik, ( Cartilago car ) baik, terdapat rambut larugo.
g.  Hidung
Hidung bentuk simetris, terpasang NGT, keadaan hidung bersih tidak terdapat peradangan atau pembengkakan hidung.
h.  Mulut
Bentuk bibir simetris, bibir terdapat bercak putih pada membran mukosa, refleks hisap (+), reflek rooting (-).
i.   Dada dan Paru-paru
Dada simetris ( Sama antara kiri dan kanan ), bentuk dada menonjol, PX terlihat jelas.
j.  Jantung
Nadi apikal 132 x/menit, bunyi jantung reguler BT1 + BT2, palapasi nadi brakhialis (+) lemah, radialis (+) lemah, femoralis lemah dan nadi karotis (+)
k.  Abdoment
Bentuk abdomen dan cekung pada bagian px, bising usus dapat terdengar 4x/menit, tali pusat belum putus, keadaan kering, tidak terdapat kemerahan, tidak terdapat haluaran nanah, perut diraba lunak.
l.  Genitalia
Lubang penis terdapat di gland penis, kedua testis dapat teraba pada scrorum.
m. Anus
Anus paten, ditandai dengan bayi sudah BAB, mekonium sudah keluar berwarna hitam dan lembek
n.  Punggung
Terdapat banyak rambut larugo, bentuk simetris, tidak terdapat ruam kemerahan atau rush.
o.  Ekstrimitas
Ekstrimitas dapat bergerak bebas, ujung jari merah muda/tidak sianosis, jumlah jari komplit, kaki sama panjang, lipatan paha kanan dan kiri simetris, pergerakan aktif
p.  Kulit
Warna kulit merah seluruh tubuh, sianosis (-),tidak terdapat tanda lahir, Skin Rush(-), Ikterik (-).
q.  Eliminasi
Eliminasi BAK 6-8 x/hari, BAB 2-4 x/hari
r.  Suhu
Suhu tubuh 36,2 oC

4. Hubungan Psikososial Orang tua dengan Bayi
a. Budaya: -
b. Agama: Agama yang dianut keluarga klien yaitu agama islam.
c. Psikologis: Psikologis ibu klien sangat labil dikarenakan kondisi yang dialami anaknya saat ini. Dia jarang menjenguk anaknya.

5.  Hubungan Orang tua dengan Bayi
Tingkah laku Ibu Anak:
·      Menyentuh: jarang
·      Memeluk: jarang
·      Berbicara: jarang
·      Berkunjung: jarang
·      Memanggil nama: jarang
·      Kontak mata: jarang
  
6. Pemeriksaan Penunjang
·      Pemeriksaan Laboratorium
Hematologi (Tanggal 5 Desember 2012)
No
Parameter
Hasil
Nilai Normal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Hemoglobin
Eritrosit
Hematokrit
Leukosit
Trombosit
Basofil
Eosinofil
Batang
Segmen
Limposit
Monosit
14,2 g/dl
4.190.000/mm3
41 vol %
12.900/mm3
85.000/mm3
0 %
4 %
1 %
50 %
30 %
15 %
14 – 18 g/dl
4,5 – 5,5 juta/mm3
40- 48 vol %
5000 – 10.000/ mm3
200.000 – 500.000/mm3
0 – 1 %
1 – 3 %
2 – 6 %
50 – 70 %
20 – 40 %
2 – 6 %

7. Therapy
·      Ampicilin 3 x 100mg/ hari
·      Amikasin 2 x 40mg/ hari
·      Sabital  2 x 15mg/ hari

B. ANALISA DATA
No
Data Penunjang
Etiologi
Problem
1
Ds: -
Do:
·      RR 70 x/menit
·      Retraksi dinding dada (+)
·      Retraksi dinding efigastrium (+)
·      Bayi tampak lemah
Atelaksasis

Menurunnya ventilator

CO2 meningkat
 

Perfusi perifer jaringan

Sulfaktan menurun
Gangguan pola nafas
2
Ds: -
Do:
·      Suhu bayi 36,2 °C
Metabolisme menurun

Bayi tidak bisa memproduksi panas tubuh sesuai kebutuhan
 

Panas tubuh mudah hilang
Resiko tinggi hipotermi.
3
Ds: klien mengatakan kapan anaknya bisa pulang
Do:
·      Ibu tampak cemas
·      Ibu menangis Anak sakit
Hospitalisasi
 

Kurangnya pengetahuan

Cemas
Gangguan rasa aman cemas

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.    Gangguan pola nafas berhubungan dengan belum terbentuknya zat sulfaktan dalam tubuh
2.    Resiko tinggi gangguan termoregulasi: hipotermi berhubungan dengan belum terbentuknya lapisan lemak pada kulit.
3.    Kecemasan ortu berhubungan dengan kurang pengetahuan ortu tentang kondisi bayi

D.  INTERVENSI KEPERAWATAN
No
Dx
Tujuan
Intervensi
Rasional
1
Gangguan pola nafas berhubungan dengan belum terbentuknya zat sulfaktan dalam tubuh
Setelah dilakukan perawatan dalam 3 x 24 jam, gangguan pola nafas berkurang.
·      Observasi pola nafas
·      Observasi TTV

·      Tempatkan bayi pada tempat yang hangat
·      Berikan terapy O2 sesuai dengan kebutuhan
·      Kolaborasi pemberian terapy obat
·   Mengetahui frekuensi nafas
·   Mengetahui keadaan umum bayi
·   Mempertahankan suhu tubuh
Membantu
·   Memenuhi suplai O2


·   Obat-obatan mungkin dibutuhkan dalam pemberian terapi
2
Resiko tinggi gangguan termoregulasi: hipotermi berhubungan dengan belum terbentuknya lapisan lemak pada kulit.
Tupan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan suhu tubuh tetap normal.

Tupen:
Suhu 37oC
Bayi tidak kedinginan
·      Tempatkan bayi pada tempat yang hangat
·      Pantau suhu tubuh setiap 2 jam
·  Mencegah terjadinya hipotermi

·  Mengetahui perubahan suhu yang terjadi
3
Kecemasan ortu berhubungan dengan kurang pengetahuan ortu tentang kondisi bayi
Tupan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan cemas keluarga klien berkurang

Tupen:
Ibu tidak menangis
Mimik verbal tidak cemas
·      Kaji tingkat kecemasan
·      Berikan penjelasan tentang keadaan klien saat ini
·      Berikan kesempatan kepada keluarga untuk mengungkapkan perasaan
·      Anjurkan keluarga untuk tetap mengunjungi bayinya
·  Mengetahui koping individu
·  Meningkatkan pengetahuan orang tua

·  Membina hubungan saling percaya


E.  IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

No
No DX
Tanggal
Implementasi
Respon
1
I
Selasa, 4 Desember 2012
Pukul 21.00 WIB
1. Mengobservasi pola nafas
2. Mengobsevasi TTV



3. Menempatkan bayi pada tempat yang hangat
4. Melakukan kolaborasi pemberian terapy obat
/R: klien tampak gelisah
Respirasi : 66 x/menit
/R : Klien Tampak lemah
Suhu: 36. 2 o C
Nadi: 128 x/menit
Respirasi : 66x/menit
/R : klien tampak lemah


/R : Klien terlihat meringis
H :
Sabital  2 x 15mg/ hari
II
Selasa, 4 Desember 2012
Pukul 22.00 WIB
1. Menempatkan bayi pada tempat yang hangat
2. Memantau suhu tubuh setiap 2 jam
/ R : Klien tampak lemah

/ R : Klien tampak gelisah
H : Suhu : 36.5 °C
III
Kamis, 7 Desember 2012
Pukul 06.00 WIB
1. Mengkaji tingkat kecemasan

2. Memberikan penjelasan tentang keadaan klien saat ini

3. Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk mengungkapkan perasaan

4. Menganjurkan keluarga untuk tetap mengunjungi bayinya
/R : Orang tua klien mau menjawab pertayaan perawat
H : Orang tua klien tampak cemas
/R : Keluarga bertanya mengenai keadaan bayinya
H : Keluarga mengetahui
keadaan bayinya.
/R : Keluarga mau mengungkapkan
perasaannya
H : Keluarga khawatir dengan keadaan bayinya saat ini dan berharap bayinya cepat dibawa pulang
/H : Orang tua jarang mengunjungi bayinya.
2
I
Rabu, 5 Desember 2012
Pukul 21.00 WIB
1. Mengobservasi pola nafas
2. Mengobsevasi TTV



3. Menempatkan bayi pada tempat yang hangat
4. Melakukan kolaborasi pemberian terapy obat
/R: klien gelisah
Respirasi : 72 x/menit
/R : Klien Tampak lemah
Suhu: 36 o C
Nadi: 134 x/menit
Respirasi : 72x/menit
/R : klien tampak lemah


/R : Klien tampak meringis
H :
Sabital  2 x 15mg/ hari
II
Rabu, 5 Desember 2012
Pukul 21.00 WIB
1. Menempatkan bayi pada tempat yang hangat
2. Memantau suhu tubuh setiap 2 jam
/ R : Klien tampak lemah

/ R : Klien tampak gelisah
H : Suhu : 36.5 °C

F. EVALUASI
No
Diagnosa
Evaluasi Keperawatan
1











2







3
I











II







III
Selasa, 4 Desember 2012. Pukul 23.00 WIB

S : -
O : Keadaan Bayi hipoaktif, klien gelisah, nafas cepat
66 x / menit
A : Gangguan pola nafas belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
I :
o Kaji pola nafas klien
o Observasi TTV
o Kolaborasi pembererian obat sesuai kebutuhan.

Selasa, 4 Desember 2012. Pukul 23.00 WIB
S : -
O : Suhu tubuh 36,5 oC
A : Resiko tinggi Gangguan termoregulasi
Hypotermoregulasi belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
I : o Kaji suhu tubuh setiap hari

Selasa, 4 Desember 2012. Pukul 23.00 WIB
S : Ibu klien mengatakan senang melihat kondisi anaknya
O : Ibu klien tersenyum, ibu tidak menangis
A : Gangguan rasa aman cemas teratasi
P : Tingkatkan pengetahuan keluarga